Friday, 2 May 2014

Mari Mengenal Mitos Sell in May and Go Away

Headline



Di dunia Stock Market ada satu istilah Sell in May and Go Away yang sudah mendunia. Banyak investor yang sering kali salah mengerti arti dari istilah ini, banyak yang menganggap bulan May adalah waktunya jual.

Menurut analis Creative Trading System, Argha J Karo Karo, banyak investor menganggap indeks cenderung mengalami koreksi signifikan pada bulan Mei. "Namun sebenarnya arti dari istilah tersebut bukanlah itu," katanya.

Sell in May and Go Away sebenarnya tidak sedang membahas pergerakan pada bulan Mei saja, melainkan pergerakan dari bulan May sampai October. Mitos ini berawal dari penelitian banyak analis di Amerika yang melihat adanya kecenderungan koreksi di bursa dalam periode May – Oktober. "Analisa tersebut memang beralasan, salah satu buktinya adalah simulasi yang dibuat tahun lalu oleh salah satu analis di Wall Street," jelasnya.

Analis tersebut membuat dua simulasi, simulasi pertama mereka menginvestasikan uang sebesar $1000 di index SP500 pada tanggal 1 May dan menjualnya pada tanggal 31 October. Jika strategi tersebut dilakukan dari tahun 1.950 dan dilakukan setiap tahun sampai tahun 2012 lalu, maka untung yang diperoleh selama 62 tahun hanya sebesar $32, nilai portfolionya naik dari $1000 ke $1032.

Sementara semulasi kedua strateginya dibalik, dengan menginvestasikan $1000 pada tanggal 1 November dan menjualnya di tanggal 30 April setiap tahunnya. Maka dalam periode 1950 – 2012 total keuntungan yang kita dapat adalah $74.539.

"Jika melihat data tersebut kita melihat memang mitos ‘sell in may and go away’ terbukti benar selama beberapa puluh tahun ke belakang, bursa Amerika cenderung underperformance di bulan May – October jika dibandingkan di bulan November – April," paparnya.

Namun ‘mitos’ apakah mitos itu juga berlaku di Indonesia. Selama ini kami belum berhasil menemukan satu analis pun yang melakukan simulasi serupa di IHSG. Oleh karena itu kami dengan senang hati menjadi pihak pertama yang melakukan simulasi serupa di IHSG.

Kami mengandai-andaikan bahwa IHSG adalah sebuah saham, lalu kami membagi sumulasi menjadi dua. Simulasi Pertama : BUY di harga opening tanggal 1 May, dan SELL di harga closing 31 Oktober. Simulasi Kedua : BUY di harga opening tanggal 1 November, dan SELL di harga closing 30 April.

"Hasil simulasi ini akan menunjukan kepada kita: Apakah fenomena yang terjadi di bursa Amerika, juga terjadi di Indonesia ? Analisa kami lakukan sejak November 1997, sampai penutupan IHSG bulan April 2014." Berikut simulasinya:

Sell In 30 April


Dengan mulai dengan strategi yang yang membeli awal November dan menjual sebelum bulan Mei dimulai, strategi ini sejalan dengan mitos ‘sell in may and go away’. Karena dalam bulan Mei – Oktober kita tidak memiliki saham sama sekali.

Hasil simulasi menunjukan dalam 17 tahun kebelakang, IHSG mengalami koreksi sebanyak 4 kali dalam periode tersebut, sementara dalam 13 kesempatan lainnya IHSG mengalami kenaikan dengan record kenaikan terbesar di tahu 1999 dimana IHSG naik 64%.

Selain itu dalam 6 tahun terakhir IHSG selalu naik dalam periode tersebut, termasuk di tahun ini dimana sejak awal November 2013 sampai akhir April 2014 IHSG naik sebesar 8,2%

Rata – rata kenaikan dalam 17 tahun terakhir adalah 16,9% per tahun, kenaikan yang cukup besar dan membuktikan bahwa jika kita melakukan strategi ini sejak tahun 1997 lalu, kita sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Sell 31 October

Simulasi kedua adalah kebalikan, dimana kita justru melakukan pembelian di awal bulan May, dan menjualnya di akhir Oktober.

Hasil simulasi menunjukan satu perbedaan yang cukup kontras dibandingkan dengan simulasi pertama, dala 16 kesempatan, IHSG 7 kali mengalami penurunan dalam periode tersebut, jadi meskipun kemungkinan naik masih lebih besar dari turun, namun dalam periode ini resiko di IHSG jauh lebih besar, rata – rata kinerja sepanjang periode ini juga hanya 1.9% atau 15% lebih kecil daripada periode sebaliknya. Bahkan dalam 6 tahun terakhir IHSG 3 kali mengalami koreksi dalam periode May – Oktober.

Kesimpulan

Hasil simulasi membuktikan bahwa mitos ‘Sell in May & Go Away” bukan hanya berlaku di pasar Amerika tetapi juga di market Indonesia. Terbukti dalam 16 tahun terakhir kinerja IHSG periode May – Oktober sangat jauh di bawah kinerja bulan November – April.

Namun hal ini bukan berarti, IHSG akan jatuh di bulan Mei ini, karena ada masih ada periode 6 bulan kedepan dimana koreksi signifikan bisa terjadi. Namun tidak ada salahnya kita mulai mengurangi persentasi saham kita dalam beberapa bulan kedepan. "Saatnya menjaga keuntungan yang kita dapatkan dalam beberapa bulan terakhir, jangan sampai market mengambil kembali keuntungan yang sudah dengan susah payah kita dapatkan."

0 komentar: