Saturday, 3 May 2014

Mengenal Beberapa Model Pergerakan Harga Saham

Bagaimana sih cara harga bisa bergerak? Ada orang yang bilang.. bahwa pergerakan harga tergantung dari supply and demand.  Ada yang bilang kalau bandar yang gerakin.  Ada yang bilang bahwa big player, asing, aseng atau banyak lagi yang lainnya.
130802 Pergerakan harga - Big Caps
Saya menjelaskan model pergerakan harga ini, melalui beberapa model.  Dalam setiap model, harga saham digerakkan oleh pihak-pihak, orang-orang, atau faktor-faktor yang berbeda-beda.
  • IHSG movers Model atau Big Caps Model
Pada model yang pertama ini, harga bergerak sebagai akibat dari minat dari pelaku pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia ditengah percaturan ekonomi dunia dan/atau ekonomi regional  Asia.   Mereka kemudian masuk ke pasar (baca: beli saham di Indonesia) dengan menggunakan IHSG sebagai benchmark.  Karena IHSG adalah sebuah angka indeks yang dihitung dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang, maka saham dengan kapitalisasi yang besar akan berpengaruh lebih besar terhadap pergerakan IHSG.  Itu sebabnya, mereka melakukan posisi beli, semata-mata hanya melihat kapitalisasi.  Sebagai contoh, bisa dilihat apa yang terjadi dalam bulan Juli 2013 kemarin: BI Rate naik, Inflasi tinggi, tapi asing malah beli saham perbankan (BMRI dan BBRI).  Mereka beli saham perbankan bukan karena prospeknya bagus, tapi karena saham-saham itu adalah saham-saham dengan kapitalisasi terbesar.
Pelaku pasar: Lebih sering pemodal asing, bisa hedge fund, fund manager reksadana atau dana pensiun, meski pemodal lokal juga bisa dan ada yang melakukan strategi yang serupa.
Prediksi pergerakan harga: Relatif mudah karena kita bisa menggunakan prediksi indeks regional sebagai panduan.
Event penting yang perlu diperhatikan: release data ekonomi, berita-berita ekonomi (lokal, regional, global).
Contoh saham: BMRI, BBRI, ASII, BBCA, UNVR
  • Blue Chip Model
Dalam Blue Chip model ini, penggerak utama pasar adalah rekomendasi analis perusahaan sekuritas.  Rekomendasi analis sekuritas ini (terutama dari sekuritas besar, bisa lokal maupun asing), kemudian didengarkan oleh klien dari sekuritas tersebut yang tidak lain adalah dana pensiun, fund manager, investor institusi, big retail, dan juga retail klien mereka.  Rekomendasi ini kemudian menggerakkan harga saham sesuai dengan arah rekomendasi.  Kalau rekomendasi beli, harga akan naik, rekomendasi jual, harga akan turun.  Dalam blue chip model ini, faktor kapitalisasi pasar memang masih memiliki peran yang sangat signifikan karena buat analis sekuritas, mereka harus memperhatikan masalah likuiditas saham serta kapitalisasi yang sering kali menjadi syarat investasi dari klien mereka.
130802 Model Harga - BlueChip
Analis-analis tersebut hampir seluruhnya adalah analis yang berintegritas tinggi.  Sehingga, pendapat mereka secara umum adalah netral.  Benturan kepentingan terkadang bisa saja terjadi (seperti akibat ‘pesanan’ dari perusahaan, atasan atau kolega), tapi relatif jarang.  Analisis sering dibuat dengan ‘niatan terbaik’.  Meskipun hasilnya (pergerakan harga setelah report tersebut di publish) sering kali tetap saja kedodoran (keluar report beli, malah harga turun, vice versa).
Pendorong Utama: Rekomendasi Analis Sekuritas, Fundamental
Pelaku pasar utama: Fund manager reksadana, dana pensiun, investor institusi.
Prediksi pergerakan harga: relatif mudah karena pelakunya adalah pemodal yang rasional.
Sifat: Rekomendasi dibuat oleh orang yang tidak punya posisi, sehingga lebih obyektif.
  • Exotic Stock
Exotic stock ini adalah saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah, sering kali berasal dari industri yang kurang begitu mendapatkan perhatian pasar, tapi memiliki model bisnis dan/atau prospek fundamental yang bagus.  Saya sebut sebagai Exotic karena dengan fundamental yang bagus, saham ini sering kali harus ‘ditemukan’ oleh para investor/trader fundamental yang retail, sebelum akhirnya pemodal institusi tertarik untuk turun ‘nyebur’, membeli saham ini.  Daya tarik utamanya adalah ‘cerita/story yang menarik’, sehingga menjadikan para fund manager tertarik untuk memburu saham ini.  Yang disebut story disini, bisa saja model bisnisnya yang baru, kinerjanya, rasio-rasio yang menarik (PE atau PBV yang rendah), atau bisa juga saham dengan fundamental kecil, tapi dari industri yang sedang ‘on play’ (menjadi daya tarik utama pasar).
Satu hal yang perlu dicermati disini adalah: karena rekomendasinya berasal dari sesama trader atau investor, mereka ini juga memiliki posisi.  Mereka bisa saja sudah beli dulu di harga yang lebih murah, kemudian memberikan rekomendasi kepada anda untuk melakukan posisi beli, diatas harga mereka melakukan posisi beli.  Rekomendasi pada saham-saham seperti ini, biasanya subyektif.  Bisa berlebihan.. bisa juga tidak… tapi tetap saja: subyektif.  Jadi.. bisa saja anda masuk ke dalam perangkap mereka: anda beli, ketika mereka jualan.  Bisa saja anda masuk ke dalam perangkap mereka.
130802 Model Harga Exotic
Pelaku Utama: Investor/Trader fundamental kakap yang rasional dan/atau Private Fund Ekuitas sebagai pelaku awal, kemudian diikuti oleh fund manager reksadana dan institusi.
Sumber rekomendasi: Investor/Trader Fundamental, sebelum di ikuti oleh analis sekuritas.
Prediksi pergerakan harga: ketika masih dalam fase awal, prediksi teknikalnya relatif sulit.  Tapi, ketika volume sudah mulai masuk ke pasar, trend mulai terbentuk, suport resisten mulai bisa terbaca, disitu baru prediksi mulai terasa mudah.
Contoh dari saham-saham yang termasuk golongan ini yang pada tahun 2012-2013 ini menjadi sorotan dari pemodal adalah: ULTJ (perusahaan kapitalisasi kecil dengan strong brand), ADES (mendapatkan job untuk membuat air mineral dari Nestley), PNLF (PE rendah), ASRI (peningkatan nilai landbank sebagai akibat dari pembuatan jembatan layang masuk ke kawasan tersebut), dan masih banyak lagi.
  • Model Saham Gorengan
Yang mengalami model pergerakan seperti ini, biasanya adalah saham dengan fundamental seadanya atau bahkan cenderung jelek, atau bisa saja saham dengan fundamental bagus, tapi dengan pemilik yang kuper (kurang pergaulan dan pendidikan).  Yang sering, memang saham dengan fundamental jelek, terus dimasukin aset atau dibuat seakan-akan mau ada aksi korporasi, dibuatin rumornya, terus mulai dimain-mainkan harganya.  Ketika signal teknikal mulai muncul, trader teknikal mulai masuk.  Pada saham ini, peran dari kompor bandar, sangatlah penting.  Kompor bandar ini adalah orang-orang yang bekerja sama dengan pelaku utama.  Tugasnya adalah memastikan pemodal-pemodal retail yang berpengetahuan rendah, untuk membeli saham itu.  Running trade adalah display utama papan dari saham ini.  Dengan pergerakan harga yang atraktif mereka memikat minat pada ‘laron-laron’ pasar modal yang berkeliaran.  Terus, setelah pemodal retail ini melakukan posisi beli, mereka juga bertugas agar para pemodal retail ini nyangkut, tetap bertahan pada saham tersebut, ketika bandar atau trader besar yang menjadi penggerak harga.
Perilaku kompor bandar ini, sering kali terlihat sangat jelas sehingga saya sering merasa risi.  Beberapa trick standar yang sering dilakukan diantaranya adalah:
  1. memberikan rekomendasi beli dengan alasan fundamental ketika trend harga jangka menengah sudah mulai patah
  2. berteriak ‘oversold’ ketika orang mulai berpikir untuk cut loss
  3. awalnya ngomong teknikal, tapi ketika trend harga mulai berubah menjadi turun, mereka ngomong alasan-alasan fundamental agar para pemodal pemula mau menahan posisi beli dan tidak melakukan cut loss.
Kompor bandar akan terus membantu bandar utama agar volume terus masuk ke pasar.  Kalau perlu, mereka akan turut mendesain rumor-rumor akan cerita semakin panas.  Emiten terkadang juga membantu dengan ‘mengeluarkan bantahan atas rumor tersebut’ hanya setelah harganya bergerak cukup.   Demikian hot-nya cerita ini, terkadang sampai berasa bahwa harga saham ini mulai memasuki ‘pergerakan harga saham tipe kedua’.  Benar.. beberapa analis fundamental yang tolol, terkadang juga termakan akan skenario ini, dan berpikir bahwa ‘oh.. ada value di saham tersebut’, dimana mereka kemudian membuat research report.  Padahal.. semuanya sering kali adalah pepesan kosong.  Seperti tragedi perusahaan batubara yang baru saja backdoor listing kemarin itu.
130802 Model Harga - Bandar Saham
Pada saham gorengan ini, korban sudah banyak berjatuhan.  Cerita-cerita seperti: tetangga atau teman yang jatuh miskin gara-gara rekomendasi saham di pertemuan di tempat ibadah, trader yang dikerjain teman di sebelahnya padahal setiap hari ketemu dan trading sama-sama, investor yang disedot terus duitnya untuk melakukan posisi beli sedangkan posisi jualnya adalah sang bandar sendiri, rekomendasi ‘ahli saham diatas panggung’ yang kemudian membatai orang satu ruangan, orang yang pamer kekayaan sana sini ngaku sebagai trader ulung tapi ternyata adalah ‘pembantai berdarah dingin’, adalah beberapa ‘lagu lama’ yang sering kali terjadi secara berulang-ulang.   Otoritas bursa bertindak? Well.. selama lebih dari 10 tahun lebih saya di pasar modal, yang sering dijerat adalah orang yang gagal bayar, atau pihak yang tidak lain adalah korban dari proses ini.  Aktornya tetap saja melengang dan menjadi orang yang disegani dikalangan pelaku pasar.  Aneh.. Tapi.. bukankah penegakan hukum di negara kita juga aneh?
——–
So…  Saham apa yang akan anda mainkan? Sudahkah anda bisa menggolongkan saham tersebut termasuk tipe pergerakan harga yang mana?
Saya sih.. sering kali hanya bermain pada saham dengan model pergerakan harga yang pertama atau kedua.  Kalaupun kemudian ada ‘sector rotation’, saya biasanya hanya berkutat pada saham-saham dengan kapitalisasi terbesar atau setidaknya nomor dua yang ada pada sektor tersebut.  Seperti misalnya: kalau yang bergerak adalah ‘cerita properti’, saya hanya berani beli di BSDE atau ASRI, kalau konstruksi hanya di ADHI atau WIKA, kalau pakan ternak hanya CPIN, dll.  Kalaupun saya tertarik pada saham jenis ketiga, saya hanya akan main dalam volume kecil.  Itupun.. saya akan diam-diam saja waktu beli.  Tapi ketika jual, saya juga tidak mau bilang terlalu keras atau tulis di blog.  Saya takut kalau ada pemodal menganggap bahwa itu adalah rekomendasi dan kemudian mereka masuk.  Resikonya terlalu tinggi buat seorang pemodal pemula.  Saham tipe pergerakan jenis keempat? Saya sudah memandangnya seperti saham yang haram: saya gak mau menyebutkan namanya, apalagi memainkannya (meskipun terkadang saya juga masih berteman dengan bandar-bandar, kompor bandar, bahkan emitennya… hehehe).
Jika anda adalah pemodal pemula yang nyangkut..
Terus… kalau anda sekarang adalah pemodal pemula yang sudah nyangkut.  Cobalah anda periksa deh portfolio anda.  Isinya cenderung saham yang mana?  Kalau saham dengan pergerakan harga tipe pertama atau kedua, mungkin anda masih ada harapan bahwa harga dari saham tersebut, akan kembali ke harga beli anda.. pada suatu hari nanti.. meski itu mungkin waktu yang agak lumayan lama.  Kalau posisi nyangkut anda ada pada saham dengan tipe pergerakan harga yang ketiga, anda harus cek dulu ‘cerita’nya.  Apakah cerita tersebut masih tetap sama, atau sudah berubah? atau malah ada cerita baru? Kalau cerita sudah berubah atau ada cerita lagi yang baru, bisa saja kondisinya berbeda: bisa kembali lebih cepat (kalau cerita barunya lebih bagus), atau malah jadi ‘gak bakal balik ke harga lama’ karena ceritanya sudah hilang.  Kalau saham nyangkut anda termasuk tipe keempat.. well.. anda cek dulu orang-orang yang berkepentingan terhadap saham ini: bandarnya, emitennya, dan juga kompornya… masih hidup atau sudah mati?? Kalau ternyata masih hidup.. terus terang.. karena mereka sebenarnya telah berbuat jahat kepada orang banyak.. kita sebaiknya membaca doa embah seperti berikut ini:
130803 doa embah
Hehehehe….
Prinsipnya sebenarnya begini:
Pergerakan harga saham itu, pada prinsipnya hanya terdiri dari dua golongan: bisa diprediksi, atau tidak bisa diprediksi.  Tradinglah hanya pada saham yang pergerakan harga sahamnya bisa anda prediksi, karena itu akan mempermudah anda untuk mencapai kemenangan, memperoleh profit.


Sumber : rencanatrading.com

Friday, 2 May 2014

Manajemen Modal


Survei membuktikan bahwa banyak pemain saham yang rugi!  Anda sudah siap menghadapi “cobaan” di bursa saham, Anda tahu analisa teknikal, dan Anda sering benar, tapi kenapa Anda masih rugi?  Mungkin Anda belum mengetahui dua aturan manajemen modal ini.

Bagi Anda pemain saham baru, memiliki banyak saham sekaligus sungguh memusingkan.  Anda bingung mana yang mau dijual, mana yang mau dibeli, dan berapa lot…  Pusing juga karena harga saham yang naik dan turun dengan cepat.

Bagaimanapun, manajemen modal ini perlu dilakukan secara otomatis, dan harus Anda patuhi kalau Anda ingin terus berada di pasar modal untuk waktu yang lama.

Anda harus mengetahui dua aturan sakral ini.


Aturan 2%

Aturan 2% bunyinya begini:  Anda tidak boleh mengambil resiko dalam satu posisi melebihi 2% dari modal Anda.

Ilustrasinya begini.  Contohnya Anda sedang memperhatikan saham BUMI karena mendapat bocoran dari teman, bahwa teman dari temannya (friend of friend of friend), yang katanya bandar akan segera mengangkat saham tersebut.

Anda tertarik, dan Anda baca dari situs ini atau situs lainnya katanya BUMI sudah golden cross.  Singkatnya, Anda mau beli saham BUMI.

Kita misalkan saja modal Anda Rp.50jt.  Pertama-tama Anda harus hitung 2% dari Rp.50jt, yaitu Rp.1jt.  Uang sejumlah satu juta rupiah itu saja yang bisa Anda resikokan dalam saham BUMI tersebut, dan ini berlaku untuk posisi apapun.

OK, kita kembali ke kasus saham BUMI.  Anda melihat di pasar saham BUMI sedang diperdagangkan di angka 2300.  Berapa lot Anda harus beli ya?  Dari grafik yang Anda pelajari, Anda melihat MA20 saham BUMI ada di 2000, dan Anda memutuskan jika BUMI sampai menyentuh angka 2000, maka Anda harus cut loss (trader harus cut loss).

Jadi, ada selisih 300 antara harga pembelian Anda dengan harga cut loss Anda jika Anda terbukti salah.  Jadi berapa maksimum Anda boleh membeli saham BUMI?  Bagi satu juta Anda tadi dengan 300, maka Anda mendapatkan angka 3.333 lembar saham.  Satu lot adalah 500 lembar saham, jadi Anda maksimum cuma boleh beli 6 lot.  Maksimum!

Andaikan BUMI benar turun sampai 2000, Anda harus segera cut loss sesuai dengan rencana Anda sebelumnya.

Begitu juga dengan saham lainnya.  Kita lanjutkan proses pemikirannya.  Kemudian Anda melirik saham ADRO, karena katanya fundamentalnya lebih bagus dari BUMI dan uang Anda baru terpakai sedikit jadi bisa beli lagi.

ADRO sedang ditawarkan di harga 2100.  Anda melihat support berada di 2000.  Berapa Anda boleh beli ADRO?  Coba Anda hitung dulu…  Kami tunggu.

Satu juta dibagi selisih, yaitu 100, didapat 10.000.  Jadi Anda boleh membeli 20 lot ADRO.  Maksimal!  Anda putuskan mau beli 10 lot saja, boleh saja.  Tapi kalau 25 lot, tidak boleh!
Dan begitu seterusnya sampai Anda terbentur aturan yang kedua di bawah ini.


Aturan 6%

Aturan 6% bunyinya begini:  Anda tidak boleh mengambil seluruh total resiko pada posisi lebih dari 6% dari modal Anda.

Artinya apa?  Jika modal Anda Rp.50jt seperti contoh kita di atas, maka seluruh resiko posisi Anda jika dijumlahkan tidak boleh lebih dari 6% x Rp.50jt yaitu Rp3jt.

Mari kita ilustrasikan.  Misalkan posisi Anda begini:  Modal Rp.50jt.  Anda memegang saham BUMI 6 lot di harga 2300 dengan support 2000, ADRO 20 lot@2100 dengan support 2000, dan TLKM 2 lot @8900 dengan support 8000.  Anda baru menghabiskan modal Anda sebesar Rp.36.800.000, bolehkah Anda menambah saham lagi?

Kita hitung resiko dulu:

BUMI:  6 x 500 x Rp.300 = Rp.900.000.
ADRO:  20 x 500 x Rp.100 = Rp.1.000.000.
TLKM:  2 x 500 x Rp.900 = Rp.900.000.

Total Resiko:  Rp.2.800.000.

Anda cuma boleh menambah resiko sebesar Rp.200.000 lagi.  Misalkan nantinya Anda mau membeli ENRG di harga 160 dengan support 150, maka Anda cuma boleh beli maksimal: Rp.200.000/10 = 20.000 lembar atau 40 lot, walaupun modal Anda masih sisa.

Kapan Anda boleh menambah posisi?  Jika saham Anda sudah bergerak meninggalkan resikonya dan Anda memasang trailing stop, menaikkan batas cutloss Anda ke harga pembeliannya.

Sebagai contoh, setelah tiga hari, ADRO mencapai harga Rp.2400, sedangkan yang lain tidak bergerak (misalnya!) dan Anda memutuskan menaikkan trailing stop ke harga pembelian yaitu Rp.2100, dimana Anda bilang kepada diri Anda tidak akan membiarkan ADRO jatuh di bawah 2100 di situ Anda akan jual!

Maka Anda mendapat lagi kesempatan untuk menambah resiko sebesar Rp.1.000.000,-.  Pokoknya selama total resiko tidak lebih besar dari tiga juta, Anda boleh tambah posisi!

Tapi, pada suatu ketika, pasar benar-benar melawan Anda dan Anda harus cut loss di semua posisi hingga Anda rugi tiga juta rupiah, apa yang harus Anda lakukan?  Anda harus tutup semua posisi terbuka Anda dan Anda tidak boleh bertransaksi sampai bulan berikutnya sambil mereview sistem Anda.

Anda diperbolehkan trading bohong-bohongan.  Hal ini menghindarkan Anda dari market crash dan kesalahan sistem yang akut.  Anda harus terus menerus belajar dan beradaptasi di pasar modal karena pasar selalu berubah.  Anda butuh waktu.  Dengan aturan 6% ini, setidaknya Anda butuh lebih dari satu setengah tahun untuk bangkrut jika Anda rugi terus menerus…  Bandingkan dengan orang lain yang mungkin cuma butuh satu bulan untuk bangkrut dengan terus menerus average down.


Mengenai Margin Trading

Sebagai penutup, bagi pemain baru, jangan pernah tergoda untuk mengambil margin, karena margin akan mengekspos lebih banyak modal Anda kepada resiko.  Anda boleh saja mengambil margin jika semua posisi Anda sudah bebas resiko, artinya Anda bermain dengan uang market.  Tapi jangan perlakukan margin untuk mendapatkan uang dengan cepat.  Hasilnya, nanti uang Anda yang habisnya cepat!

Patuhi aturan 2% dan 6%!  Ini akan menyelamatkan hidup finansial Anda.

Sudahkah Anda manajemen portfolio Anda dengan baik?


Siklus Kalender Saham





Fluktuasi harga saham terjadi pada setiap hari. Jika kita coba analisa, maka akan terdapat pola (tren) pergerakan saham yang berulang. Pola berulang ini dapat digunakan sebagai sinyal dalam membeli atau menjual saham.

Januari
Di Amerika, Wallstreet, terdapat istilah January effect. Istilah tersebut didapat dari berbagai studi yang menyatakan bahwa jika kita mengkoleksi saham-saham kecil pada awal Desember dan menyimpan hingga Januari, maka kita bisa mendapatkan keuntungan 5-10%.
Hal tersebut dikarenakan manajer investasi, reksadana, treasury banking akan menjaga performa bagus mereka dengan tidak menyimpan saham-saham yang harganya jatuh dalam portofolio mereka hingga menjelang akhir tahun. Lalu adanya aktifitas window dressing (para emiten memoles laporan keungan perusahaan agar lebih menarik).
Investor retail dapat memanfaat bulan Januari ini untuk menjual saham (bukan membeli saham), karena pada bulan ini harga saham akan tinggi dibanding bulan-bulan lainnya.

Februari
Dari analisa berbagai data bursa efek Indonesia periode 2000-2010, terdapat kecenderungan bahwa bulan Februari merupakan bulan dimana bursa saham mengalami periode penurunan terendah.
Bagi para investor, pada bulan Februari ini merupakan saat untuk wait & see. Biarkan harga saham terus turun, lalu lakukan pembelian saat harga saham sudah murah.

Maret - April
Setiap bulan Maret, pertumbuhan IHSG dapat menjadi acuan bagi pertumbuhan IHSG bulan April dan Mei. Bulan Maret dapat digunakan oleh investor untuk mengkoleksi saham-saham bagus untuk disimpan hingga bulan April atau Mei.
Bulan April biasanya merupakan saat bagi perusahaan BUMN merilis laporan keuangan kuartalannya dan membagikan deviden.

Mei
Pada bulan Mei, terdapat banyak aksi profit taking. Investor sebaiknya menunggu hingga minggu ke-4 untuk mengkoleksi saham.

Juni
Bulan Juni biasanya IHSG memiliki kecenderungan naik secara perlahan. Bagi investor, bulan Juni baik untuk mulai membeli saham yang sudah terkoreksi pada bulan sebelumnya.

Juli
Di bulan ini ada kecenderungan IHSG mengalami kenaikan yang tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Bagi investor, ini adalah saatnya untuk profit taking.

Agustus
Biasanya di bulan ini, IHSG memiliki tren positif, meskipun dalam tahun-tahun tertentu (2000, 2002, 2004, 2005, 2007, 2008) justru mengalami koreksi. Jika Agustus, IHSG mengalami koreksi, investor dapat bersikap wait & see hingga akhir bulan Agustus untuk mulai mengkoleksi saham.

September
Dari studi pertumbuhan IHSG, September merupakan saat yang tepat untuk mulai mengkoleksi saham-saham untuk disimpan hingga Januari.

Oktober
Oktober merupakan bulan dimana IHSG dapat mengalami pertumbuhan atau penurunan. Kadang kala, di bulan ini kejatuhan harga saham diperparah oleh aksi jual paksa oleh perusahaan sekuritas akibat dari akumulasi kegagalan investor menggunakan fasilitas utang margin trading.
Jika IHSG mengalami kejatuhan, maka bagi para investor ini merupakan saat yang paling tepat untuk mengkoleksi saham.

November - Desember
Pada bulan November dan Desember, IHSG akan mengalami peningkatan hingga Januari.
  



Berikut di bawah ini merupakan siklus lainnya (di luar kalender):


Lebaran
Menjelang hari lebaran, investor lebih senang menyimpan uang tunai daripada saham. Biasanya, emiten akan mengerek harga saham setinggi-tingginya menjelang libur lebaran, untuk mengantisipasi harga saham anjlok paska libur usai.

BI Rate
Jika suku bunga perbankan (BI Rate) turun, maka akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengajukan kredit ke bank. Semakin banyak kredit yang dikucurkan, maka sektor perbankan akan tumbuh. Pengajuan kredit akan bermacam-macam, ada untuk kredit kendaraan maupun properti. Jika penjualan kendaraan meningkat, maka akan meningkatkan saham yang berbasis otomotif dan spare-part nya. Begitu pula dengan sektor properti yang semakin meningkat, akan meningkatkan pula sektor kontruksi dan semen.

Harga Minyak Dunia
Semakin tinggi harga minyak dunia, maka akan memicu kenaikan sumber energi substitusi lainnya, seperti batubara dan gas alam. Sektor energi sangat rentan terhadap pergerakan harga minyak dunia ini.

QE (Quantitative Easing)
Quantitative Easing merupakan bantuan yang diberikan The Fed untuk merangsang pertumbuhan ekonomi Amerika. Pemberian QE biasanya akan berpengaruh besar terhadap pergerakan harga saham dunia (kecenderungan akan meningkat). Dengan dirangsangnya perekonomian Amerika, maka akan semakin banyak industri (pabrik) yang semakin agresif. Keagresifan para industri tersebut akan membutuhkan sumber energi yang semakin banyak. Hal tersebut mengakibatkan harga minyak dunia akan semakin meningkat.



Mari Mengenal Mitos Sell in May and Go Away

Headline



Di dunia Stock Market ada satu istilah Sell in May and Go Away yang sudah mendunia. Banyak investor yang sering kali salah mengerti arti dari istilah ini, banyak yang menganggap bulan May adalah waktunya jual.

Menurut analis Creative Trading System, Argha J Karo Karo, banyak investor menganggap indeks cenderung mengalami koreksi signifikan pada bulan Mei. "Namun sebenarnya arti dari istilah tersebut bukanlah itu," katanya.

Sell in May and Go Away sebenarnya tidak sedang membahas pergerakan pada bulan Mei saja, melainkan pergerakan dari bulan May sampai October. Mitos ini berawal dari penelitian banyak analis di Amerika yang melihat adanya kecenderungan koreksi di bursa dalam periode May – Oktober. "Analisa tersebut memang beralasan, salah satu buktinya adalah simulasi yang dibuat tahun lalu oleh salah satu analis di Wall Street," jelasnya.

Analis tersebut membuat dua simulasi, simulasi pertama mereka menginvestasikan uang sebesar $1000 di index SP500 pada tanggal 1 May dan menjualnya pada tanggal 31 October. Jika strategi tersebut dilakukan dari tahun 1.950 dan dilakukan setiap tahun sampai tahun 2012 lalu, maka untung yang diperoleh selama 62 tahun hanya sebesar $32, nilai portfolionya naik dari $1000 ke $1032.

Sementara semulasi kedua strateginya dibalik, dengan menginvestasikan $1000 pada tanggal 1 November dan menjualnya di tanggal 30 April setiap tahunnya. Maka dalam periode 1950 – 2012 total keuntungan yang kita dapat adalah $74.539.

"Jika melihat data tersebut kita melihat memang mitos ‘sell in may and go away’ terbukti benar selama beberapa puluh tahun ke belakang, bursa Amerika cenderung underperformance di bulan May – October jika dibandingkan di bulan November – April," paparnya.

Namun ‘mitos’ apakah mitos itu juga berlaku di Indonesia. Selama ini kami belum berhasil menemukan satu analis pun yang melakukan simulasi serupa di IHSG. Oleh karena itu kami dengan senang hati menjadi pihak pertama yang melakukan simulasi serupa di IHSG.

Kami mengandai-andaikan bahwa IHSG adalah sebuah saham, lalu kami membagi sumulasi menjadi dua. Simulasi Pertama : BUY di harga opening tanggal 1 May, dan SELL di harga closing 31 Oktober. Simulasi Kedua : BUY di harga opening tanggal 1 November, dan SELL di harga closing 30 April.

"Hasil simulasi ini akan menunjukan kepada kita: Apakah fenomena yang terjadi di bursa Amerika, juga terjadi di Indonesia ? Analisa kami lakukan sejak November 1997, sampai penutupan IHSG bulan April 2014." Berikut simulasinya:

Sell In 30 April


Dengan mulai dengan strategi yang yang membeli awal November dan menjual sebelum bulan Mei dimulai, strategi ini sejalan dengan mitos ‘sell in may and go away’. Karena dalam bulan Mei – Oktober kita tidak memiliki saham sama sekali.

Hasil simulasi menunjukan dalam 17 tahun kebelakang, IHSG mengalami koreksi sebanyak 4 kali dalam periode tersebut, sementara dalam 13 kesempatan lainnya IHSG mengalami kenaikan dengan record kenaikan terbesar di tahu 1999 dimana IHSG naik 64%.

Selain itu dalam 6 tahun terakhir IHSG selalu naik dalam periode tersebut, termasuk di tahun ini dimana sejak awal November 2013 sampai akhir April 2014 IHSG naik sebesar 8,2%

Rata – rata kenaikan dalam 17 tahun terakhir adalah 16,9% per tahun, kenaikan yang cukup besar dan membuktikan bahwa jika kita melakukan strategi ini sejak tahun 1997 lalu, kita sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Sell 31 October

Simulasi kedua adalah kebalikan, dimana kita justru melakukan pembelian di awal bulan May, dan menjualnya di akhir Oktober.

Hasil simulasi menunjukan satu perbedaan yang cukup kontras dibandingkan dengan simulasi pertama, dala 16 kesempatan, IHSG 7 kali mengalami penurunan dalam periode tersebut, jadi meskipun kemungkinan naik masih lebih besar dari turun, namun dalam periode ini resiko di IHSG jauh lebih besar, rata – rata kinerja sepanjang periode ini juga hanya 1.9% atau 15% lebih kecil daripada periode sebaliknya. Bahkan dalam 6 tahun terakhir IHSG 3 kali mengalami koreksi dalam periode May – Oktober.

Kesimpulan

Hasil simulasi membuktikan bahwa mitos ‘Sell in May & Go Away” bukan hanya berlaku di pasar Amerika tetapi juga di market Indonesia. Terbukti dalam 16 tahun terakhir kinerja IHSG periode May – Oktober sangat jauh di bawah kinerja bulan November – April.

Namun hal ini bukan berarti, IHSG akan jatuh di bulan Mei ini, karena ada masih ada periode 6 bulan kedepan dimana koreksi signifikan bisa terjadi. Namun tidak ada salahnya kita mulai mengurangi persentasi saham kita dalam beberapa bulan kedepan. "Saatnya menjaga keuntungan yang kita dapatkan dalam beberapa bulan terakhir, jangan sampai market mengambil kembali keuntungan yang sudah dengan susah payah kita dapatkan."