Skip to main content

Unssaf mendapatkan juara 3 di STIE YKPN


Semarang, pada tanggal 25 Mei kemarin Unssaf Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang mengirimkan 3 tim dalam kompetisi di STIE YKPN Jogjakarta. Masing masing tim beranggotakan 3 orang diantaranya yaitu . Tim 1 diwakili oleh Muhammad Dwi Cahyo, Sriningsih, Milhah alfionita. Tim 2 diwakili oleh Hery Kharisma Fitri, Frans Halason, Ratna Purnasari dan tim 3 diwakili oleh Bagus Prakoso, Chelly Aprillia Wardhani, Rizki Rizal Bakri.
            Dalam perlombaan ini merupakan lomba paper dimana terdapat 10 tim yang lolos dalam proses penyisihan. Babak final ini yang diikuti 10 tim tersebut dilakukan pada tanggal 25 Mei 2019. Pada babak final ini masing masing tim harus mempresentasikan hasil paper yang mereka buat.
Dalam perlombaan kali ini Unnes Stock Exchange Study Forum mendapatkan juara 3 yang diwakili oleh Bagus Prakoso, Chelly Aprillia Wardhani dan Rizki Rizal Bakri. Dimana dalam lomba tersebut juara pertama diraih oleh Universitas Trisakti, juara kedua diraih oleh Universitas Udayan Bali.
            Semoga kompetisi ini bisa menjadi motivasi teman teman Unssaf untuk terus berkarya dan semangat mengikuti kompetisi yang lainnya.


Comments

Waaah hebat, thanks for sharing..

Popular posts from this blog

Mendeteksi Bandarmologi dengan Volume Analisis

Banyak kita jumpai atau sering kita dengar bahwa untuk mendeteksi pergerakan smart money, big fund, atau bandar kita harus menganalisis volume. Hal tersebut benar adanya, namun perlu kita ketahui bahwa selain price ( harga saham ) yang dapat dengan dimanipulasi, volume saham pun dapat di manipulasi. Jika kita hanya melihat suatu angka yang tertera pada summary/ rekap pada data transaksi, maka hal tersebut tetaplah masih dapat dikatakan analisis yang bias. Dalam buku berjudul Value in Time karya Pascall WIllain, disebutkan bahwa pergerakan bandar/ big fund/ smart money dapat terdeteksi APABILA kita dapat memisahkan volume aktif dan volume pasif. Penjelasan mengenai kedua jenis volume tersebut tidak dapat saya tulis di blog ini karena akan memakan waktu  panjang untuk pembahasannya, namun secara garis besar pemahaman tersebut adalah benar.

Trading Limit Bukan Margin Trading

Dalam berinvestasi saham, ada istilah yang cukup terkenal yaitu Margin Trading. Secara sederhana Margin Trading dapat diartikan sebagai membeli saham dengan menggunakan dana pinjaman. Misalkan suatu perusahaan efek memberikan fasilitas Margin sebesar 100%, artinya jika nasabah memiliki dana tunai sebesar Rp200 juta, maka nasabah tersebut dapat membeli saham hingga Rp400 juta (Rp200 juta dana tunai nasabah ditambah Rp200 juta dari fasilitas Margin). Fasilitas Margin tersebut relatif populer di kalangan Investor karena dapat meningkatkan daya beli. Namun demikian, sistem Margin Trading ini memiliki resiko yang disebut Margin Call dan Forced Sell. Margin Call adalah pemberitahuan bagi nasabah bahwa terjadi penurunan harga saham sehingga nilai saham yang menjadi jaminan berkurang sementara besarnya fasilitas Margin nilainya tetap. Jika nasabah memperoleh Margin Call, maka nasabah harus menambah (Top Up) dana atau menjual

Booklet OTC Terbaru 2020

Download Here