Skip to main content

Pengumuman Volunteer UCMC 2019

Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh peserta Open Recruitment (Oprec) Volunteer UCMC 2019 atas partisipasi yang begitu luar biasa untuk mengikuti kegiatan tersebut. Apapun hasilnya kalian tetap menjadi keluarga besar dari Unssaf. Bagi yang belum berkesempatan menjadi Volunteer Ucmc 2019, jangan berkecil hati, karena wahana untuk menambah skill sangat luas 

NoNamaRombel
1Aldila TiaranyManajemen A 2018
2Alinda Putri Nur RahmaPendidikan Akuntansi 2017
3Andre Al RasyidEkonomi Pembangunan A 2017
4Andreas Mahardka Adhi PramonoManajemen B 2017
5Arum CahyatiManajemen D 2018
6Aulia Nihayatur RahmahManajemen A 2018
7Ayu Chanda NerissaManajemen A 2018
8Ayunda Salsabila DaysaManajemen B 2017
9Dwi Risqiani AgustinPendidikan Akuntansi IUP 2017
10Fajar AbdurafiManajemen  2017
11Ika Dyah LutfianiManajemen  2018
12Indah Setia NingrumPendidikan Akuntansi IUP 2017
13Lailatul KhasanahAkuntansi C 2018
14M. Wahyu ZulfikarnaAkuntansi B 2017
15Nabila Dewi PramestiEkonomi Pembangunan A 2017
16Rezza Aditya Putra KurniawanManajemen  2018
17Siska Dewi Tri MuktiAkuntansi 2018

Comments

Popular posts from this blog

Mendeteksi Bandarmologi dengan Volume Analisis

Banyak kita jumpai atau sering kita dengar bahwa untuk mendeteksi pergerakan smart money, big fund, atau bandar kita harus menganalisis volume. Hal tersebut benar adanya, namun perlu kita ketahui bahwa selain price ( harga saham ) yang dapat dengan dimanipulasi, volume saham pun dapat di manipulasi. Jika kita hanya melihat suatu angka yang tertera pada summary/ rekap pada data transaksi, maka hal tersebut tetaplah masih dapat dikatakan analisis yang bias. Dalam buku berjudul Value in Time karya Pascall WIllain, disebutkan bahwa pergerakan bandar/ big fund/ smart money dapat terdeteksi APABILA kita dapat memisahkan volume aktif dan volume pasif. Penjelasan mengenai kedua jenis volume tersebut tidak dapat saya tulis di blog ini karena akan memakan waktu  panjang untuk pembahasannya, namun secara garis besar pemahaman tersebut adalah benar.

Trading Limit Bukan Margin Trading

Dalam berinvestasi saham, ada istilah yang cukup terkenal yaitu Margin Trading. Secara sederhana Margin Trading dapat diartikan sebagai membeli saham dengan menggunakan dana pinjaman. Misalkan suatu perusahaan efek memberikan fasilitas Margin sebesar 100%, artinya jika nasabah memiliki dana tunai sebesar Rp200 juta, maka nasabah tersebut dapat membeli saham hingga Rp400 juta (Rp200 juta dana tunai nasabah ditambah Rp200 juta dari fasilitas Margin). Fasilitas Margin tersebut relatif populer di kalangan Investor karena dapat meningkatkan daya beli. Namun demikian, sistem Margin Trading ini memiliki resiko yang disebut Margin Call dan Forced Sell. Margin Call adalah pemberitahuan bagi nasabah bahwa terjadi penurunan harga saham sehingga nilai saham yang menjadi jaminan berkurang sementara besarnya fasilitas Margin nilainya tetap. Jika nasabah memperoleh Margin Call, maka nasabah harus menambah (Top Up) dana atau menjual

Booklet OTC Terbaru 2020

Download Here