CONTACT

contact form

 Bagaimana Prospek Nikel di Era Commodity Boom?

Credits: Cahyo

        Nikel sebagai salah satu komponen utama pembuatan baterai bagi kendaraan listrik sangat dicari-cari oleh para pabrik pembuatan kendaraan listrik. Apalagi Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel mencapai 11,7 miliar ton dan cadangan 4,5 miliar ton. Membuat prospek nikel masih cerah untuk kedepannya.

        Di tengah tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina membuat berbagai harga komoditas bergerak naik. Meskipun kenaikan tersebut tidak konsisten dan terjadi volatilitas naik dan turun.  Nikel mengalami kenaikan 33,9% Ytd. Hal itu bisa dikatakan bahwa komoditas nikel masih kuat dan banyak dibutuhkan oleh industri saat ini. Hal itu diperkuat dengan digencarkannya transformasi energi dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar kendaraan untuk mendukung tujuan green energy oleh G20.

       Dikutip dari Bisnis.com "Sejumlah pelaku industri kendaraan listrik dan baterai, termasuk Tesla Inc. diundang pemerintah agar mau berinvestasi. Pemerintah dalam rombongan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahkan menyambangi langsung markas Tesla di Amerika Serikat untuk menemui Elon Musk." Hal itu menggambarkan bahwa bisnis industri kendaraan listrik masih sangat menggiurkan dan dapat berkembang lebih besar lagi.

    Berikut rekomendasi  yang dapat diberikan oleh penulis jika investor tertarik untuk mengoleksi saham sektor pertambangan nikel. Namun, jangan lupa untuk selalu research lagi mengenai emiten tersebut dan selalu memasang stop loss karena masih terdapat resiko penurunan.


    Dilihat dari chart daily saham ANTM sedang berada pada fase sideways. Kita bisa memanfaatkan buy on weakness di demand area 2270-2310 dengan target price 2620-2700 dan 2980-2840. Jangan lupa untuk memasang stop loss jika dia closing di bawah 2250.


    Dilihat dari chart daily saham INCO primary trend sedang uptrend sedangkan minor trend sedang berada dalam fase sideways. Kita bisa memanfaatkan buy on weakness di demand area 7725-7550 atau  4800-4600 dengan target price 8800-8500 dengan level stoploss jika dia closing dibawah 4750 atau dibawah 7500.

No comments: