Skip to main content

General Discussion 1 2016



Hai sobat investor!! Seperti yang kita ketahui bersama, di era globalisasi yang selalu menyuguhkan kecanggihan teknologi ini, ternyata telah membawa pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan kita. Sadarkah kalian, kemunculan budaya hedonimse tanpa kita sadari sudah terjadi seiring dengan gerak zaman yang semakin modern. Apa si hedonisme itu? Jadi hedonisme itu paham yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Gaya hidup glamor semakin digandrungi oleh para remaja, seakan ada istilah “ga style itu ga zaman gan !!”. Mereka-mereka yang sudah tergila-gila dengan budaya konsumtif akan rela melakukan apa saja demi memenuhi hasratnya.  Keinginan menjadi yang terbaik, be the best, memang hal yang bagus, akan tetapi jika selama masih diterima oleh logika. Terkait dengan budaya hedonisme ini tidak kita pungkiri, mereka berlomba-lomba menjadi number one.
Jika dilihat dari fenomena itu, sebenernya mereka  sadar engga si kalo mereka itu masih punya masa depan, yang artinya mereka juga harus mempersiapkan masa depan mereka. Tidak hanya mereka, bagi sobat investor yang sudah hampir mendekati budaya hedomisme harus cepat sadar bahwa kita juga masih punya masa depan! Nah, salah satu cara untuk mempersiapkan masa depan kita adalah dengan investasi. Mengapa investasi? Karena investasi merupakan kebutuhan bagi masyarakat dunia. Eksistensi investasi sangat berpengaruh bagi peningkatan kesejahteraan hidup bagi masyarakat di dunia termasuk di indonesia. Pastinya sobat investor tau dong kalo investasi bisa kita mulai di usia kita yang masih muda, he.
Menyadari akan budaya hedonisme yang kiat pesat itu dan kemudian mengaitkannya dengan persiapan masa depan melalui investasi, menggelitik staff professional UNSSAF  untuk mengadakan sebuah diskusi umum dengan topik tersebut. Acara diskusi tersebut dikemas oleh para staffpro dengan konsep seperti acara Indonesia Lawyers Club (ILC). Keren kan? Yadong.
Unnes Stock Exchange Study Forum melalui Departemen Edukasi telah sukses menyelenggarakan acara ini yang kami sebut General Discussion dengan tema “Hedonisme Kian Pesat, Kapan Investasi Jadi Gaya Hidup Anak Muda?” pada 24 April 2016 bertempat di Gedung K3 Lantai 3 Universitas Negeri Semarang. General Discussion ini melibatkan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) se-kota Semarang dan Bapak Fany (perwakilan IDX Regional Semarang) sebagai panelis. Mereka yang hadir diantaranya KSPM Diponegoro (Undip S1), KSPM MM Undip (Undip S2), KSPM UIN Walisongo, KSPM Unwahas, KSI Unika, KSPM Udinus, KSPM Unisbank, KSPM Upgris dan KSPM UNSSAF tentunya. Hehe. 


                           
Pada General Discussion kali ini, selain mendiskusikan tentang isu-isu ekonomi terbaru yang sedang terjadi di Indonesia seperti Panama Papers, kita juga mendiskusikan Paket Kebijakan Ekonomi Presiden Jilid X dalam kaitannya dengan investasi. Keren banget kan? Di acara ini, masing-masing panelis dari setiap KSPM menyampaikan argumennya terkait dengan topik bahasan.
Acara seperti ini memang penting untuk diselenggarakan, selain untuk melatih serta meningkatkan kemampuan berargumentasi, juga untuk mendorong kita sebagai mahasiswa agar lebih peka terhadap isu-isu yang sedang terjadi di negara kita ini. Tak kalah penting, tentunya untuk menjalin silaturahmi antar KSPM se-kota Semarang dong yah.
Well. Kapan investasi jadi gaya hidupmu guys? Sampai jumpa di General Discussion selanjutnya ya!

Comments

Popular posts from this blog

Mendeteksi Bandarmologi dengan Volume Analisis

Banyak kita jumpai atau sering kita dengar bahwa untuk mendeteksi pergerakan smart money, big fund, atau bandar kita harus menganalisis volume. Hal tersebut benar adanya, namun perlu kita ketahui bahwa selain price ( harga saham ) yang dapat dengan dimanipulasi, volume saham pun dapat di manipulasi. Jika kita hanya melihat suatu angka yang tertera pada summary/ rekap pada data transaksi, maka hal tersebut tetaplah masih dapat dikatakan analisis yang bias. Dalam buku berjudul Value in Time karya Pascall WIllain, disebutkan bahwa pergerakan bandar/ big fund/ smart money dapat terdeteksi APABILA kita dapat memisahkan volume aktif dan volume pasif. Penjelasan mengenai kedua jenis volume tersebut tidak dapat saya tulis di blog ini karena akan memakan waktu  panjang untuk pembahasannya, namun secara garis besar pemahaman tersebut adalah benar.

Trading Limit Bukan Margin Trading

Dalam berinvestasi saham, ada istilah yang cukup terkenal yaitu Margin Trading. Secara sederhana Margin Trading dapat diartikan sebagai membeli saham dengan menggunakan dana pinjaman. Misalkan suatu perusahaan efek memberikan fasilitas Margin sebesar 100%, artinya jika nasabah memiliki dana tunai sebesar Rp200 juta, maka nasabah tersebut dapat membeli saham hingga Rp400 juta (Rp200 juta dana tunai nasabah ditambah Rp200 juta dari fasilitas Margin). Fasilitas Margin tersebut relatif populer di kalangan Investor karena dapat meningkatkan daya beli. Namun demikian, sistem Margin Trading ini memiliki resiko yang disebut Margin Call dan Forced Sell. Margin Call adalah pemberitahuan bagi nasabah bahwa terjadi penurunan harga saham sehingga nilai saham yang menjadi jaminan berkurang sementara besarnya fasilitas Margin nilainya tetap. Jika nasabah memperoleh Margin Call, maka nasabah harus menambah (Top Up) dana atau menjual

Booklet OTC Terbaru 2020

Download Here