Skip to main content

Mengenali tanda Kebangrutan suatu Perusahaan


 

Pada dasarnya tujuan didirikannya suatu perusahaan umumnya adalah untuk memperoleh laba, meningkatkan penjualan, memaksimalkan nilai saham, dan meningkatkan kesejahteraan pemegang saham. Hal ini berarti dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan terus bertahan dan diharapkan tidak mengalami likuidasi. Agar tidak mengalami likuidasi pihak manajemen harus dapat menghasilkan keuntungan yang optimal serta pengendalian kegiatan operasional perusahaan, terutama yang berkaitan dengan keuangan (financial) perusahaan. 

Pengendalian kegiatan operasional perusahaan dan peningkatan kinerja harus dijaga oleh perusahaan agar kondisi perusahaan tetap stabil dan tidak mendekati kebangkrutan. Kebangkrutan merupakan suatu keadaan atau situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban- kewajiban karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tak bisa dicapai. 

Tanda-tanda kebangkrutan perusahaan sebenarnya dapat dilihat dan diukur melalui laporan keuangan dengan cara melakukan analisis rasio terhadap laporan keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Analisis laporan keuangan  merupakan alat penting untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan serta hasil-hasil yang telah dicapai sehubungan dengan pemilihan strategi perusahaan yang akan diterapkan. Dengan mengadakan analisis laporan keuagan terhadap data keuangan perusahaan antara neraca dan laporan laba rugi, akan dapat diketahui mengenai perkembangan keuangan perusahaan yang dapat diketahui melalui hasil keuangan atau  operasi yang  telah dicapai diwaktu lalu  dan waktu  yang sedang berjalan. Dengan  mengadakan  analisis laporan  keuangan  dari tahun  sebelumnya,  dapat diketahui kelemahan-kelemahan perusahaan. 

Tanda kebangkrutan lainnya dapat dideteksi dengan metode Z-Score. Metode Z-score digunakan karena mudah digunakan serta mampu memperoleh tingkat ketepatan prediksi hingga 95%. Perusahaan-perusahaan yang kemudian digolongkan menjadi 3 golongan yaitu perusahaan yang tidak bangkrut, perusahaan yang termasuk rawan dan perusahaan yang berpotensi bangkrut (Hanafi, 2014: 657). Penggolongan ini berdasarkan nilai Z dengan kriteria penilaian, pertama Z-Score > 2,99 dikategorikan sebagai perusahaan yang sangat sehat sehingga dapat dikategorikan dalam perusahaan tidak bangkrut (Hanafi, 2014: 657).  Kedua 1,81 < Z-Score < 2,99 berada di daerah rawan dimana perusahaan tersebut tidak dapat ditentukan apakah termasuk perusahaan yang bangkrut atau tidak (Hanafi, 2014: 657). 3. Z-Score < 1,81 dikategorikan sebagai perusahaan yang memiliki kesulitan keuangan yang sangat besar dan berisiko bangkrut (Hanafi, 2014: 657). 

Dengan terdeteksinya kebangkrutan maka perusahaan dapat melakukan pencegahan terhadap potensi kebangkrutan yang mungkin terjadi, melalui pembaruan pada kebijakan perusahaan dan atau pada strategi bisnis. Selain itu pendeteksian risiko kebangkrutan juga berguna untuk keputusan pihak eksternal, terutama pihak kreditur yang meminjamkan dana dan pihak investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan 

Oleh Hery Kharisma Fitri
Manajemen Keuangan A 2017, UNNES



Comments

Popular posts from this blog

Trading Limit Bukan Margin Trading

Dalam berinvestasi saham, ada istilah yang cukup terkenal yaitu Margin Trading. Secara sederhana Margin Trading dapat diartikan sebagai membeli saham dengan menggunakan dana pinjaman. Misalkan suatu perusahaan efek memberikan fasilitas Margin sebesar 100%, artinya jika nasabah memiliki dana tunai sebesar Rp200 juta, maka nasabah tersebut dapat membeli saham hingga Rp400 juta (Rp200 juta dana tunai nasabah ditambah Rp200 juta dari fasilitas Margin). Fasilitas Margin tersebut relatif populer di kalangan Investor karena dapat meningkatkan daya beli. Namun demikian, sistem Margin Trading ini memiliki resiko yang disebut Margin Call dan Forced Sell. Margin Call adalah pemberitahuan bagi nasabah bahwa terjadi penurunan harga saham sehingga nilai saham yang menjadi jaminan berkurang sementara besarnya fasilitas Margin nilainya tetap. Jika nasabah memperoleh Margin Call, maka nasabah harus menambah (Top Up) dana atau menjual

Mendeteksi Bandarmologi dengan Volume Analisis

Banyak kita jumpai atau sering kita dengar bahwa untuk mendeteksi pergerakan smart money, big fund, atau bandar kita harus menganalisis volume. Hal tersebut benar adanya, namun perlu kita ketahui bahwa selain price ( harga saham ) yang dapat dengan dimanipulasi, volume saham pun dapat di manipulasi. Jika kita hanya melihat suatu angka yang tertera pada summary/ rekap pada data transaksi, maka hal tersebut tetaplah masih dapat dikatakan analisis yang bias. Dalam buku berjudul Value in Time karya Pascall WIllain, disebutkan bahwa pergerakan bandar/ big fund/ smart money dapat terdeteksi APABILA kita dapat memisahkan volume aktif dan volume pasif. Penjelasan mengenai kedua jenis volume tersebut tidak dapat saya tulis di blog ini karena akan memakan waktu  panjang untuk pembahasannya, namun secara garis besar pemahaman tersebut adalah benar.

Desa Wisata Kandri Sadar Investasi

          Desa Kandri terletak di kecamatan Gunung Pati, berada di ujung barat kota Semarang. Jika diakses menggunakan kendaraan pribadi kurang lebih 30-45 menit dari pusat Kota Semarang. Desa Wisata Kandri juga memiliki obyek wisata yang sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal, yaitu ada Goa Kreo dan juga Waduk Jatibarang serta berbagai piilihan wisata dengan slogan “Kandri WAE (Wisata Adventure Edukasi)” dimana terdapat berbagai paket wisata jelajah desa, pelatihan pembuatan kuliner olahan khas desa, seni dan budaya.