Skip to main content

GOJEK-TOKOPEDIA MERGER MENJADI GOTO, BURSA MENANTI LAHIRNYA RAKSASA BARU!

Gojek dan Tokopedia adalah perusahaan teknologi karya anak bangsa. Gojek didirikan pada tahun 2010 oleh Nadiem Makarim, sedangkan Tokopedia didirikan pada tahun 2009 oleh William Tanuwijaya. Meskipun keduanya sama-sama karya anak bangsa, keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Gojek mempunyai manfaat yaitu sebagai aplikasi yang melayani jasa ojek secara online. Tak hanya itu, gojek pun merambah ke berbagai bidang seperti makanan (go-food), jasa pijat (go-massage), jasa pembelian tiket bioskop (go-tix), jasa pengiriman (go-send), jasa pembayaran (go-pay), dan masih banyak lagi.

Sedangkan Tokopedia memiliki manfaat sebagai aplikasi yang menawarkan fitur jual & beli secara online (e-commerce). Berbagai macam barang ada di dalam Tokopedia, dari baju, alat elektronik, makanan, dan masih banyak lagi. Tokopedia memudahkan masyarakat yang ingin bertransaksi dengan mudah tanpa harus mendatangi tempat secara langsung. Tokopedia juga memudahkan masyarakat untuk membuka usaha (UMKM), dan membuka banyak lapangan kerja karena Tokopedia melibatkan berbagai kalangan seperti penjual, pembeli, dan jasa kurir.

Pada Senin 17 Mei 2021, Gojek dan Tokopedia secara resmi merger dan membentuk SuperApp yang disebut GoTo. Pasca merger, GoTo disebut memiliki valuasi hingga US$17 Miliar atau setara dengan Rp 198,80 Triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS). Dengan valuasi ini, GoTo telah menjadi raksasa baru dalam bidang teknologi dengan valuasi terbesar di Asia Tenggara yang mengungguli Grab. GoTo juga menjadi start up dengan peringkat ke 12 di dunia. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi perekonomian di Indonesia.

Gojek kabarnya akan memiliki 60% saham di entitas gabungan GoTo, dan Tokopedia memiliki sisanya. Isu ini sudah terdengar sejak awal tahun 2021 setelah isu merger antara Gojek dan Grab. Faktanya baik Grab maupun Gojek telah mengambil sikap untuk tidak memberikan komentar terhadap pemberitaan yang mengaitkan kedua perusahaan dengan kemungkinan merger tersebut. Sebab bersatunya Gojek dan Grab akan memicu masalah terkait praktik monopoli. Disisi lain, bersatunya Gojek dan Tokopedia justru saling melengkapi. Sebagai contoh, Tokopedia akan memperoleh akses ke sumber logistik Gojek demi membuat layanannya efisien serta mitra penjual Tokopedia berpeluang mencari pembiayaan dari Bank Jago yang merupakan bank digital yang telah mendapat dukungan dari Gojek. Penggabungan ini akan memperkuat 2 perusahaan sehingga diharapkan GoTo dapat mempunyai daya saing tinggi dan juga mempunyai nilai kompetitif dibandingkan dengan Grab maupun Sea Group yang merupakan start up asal Singapura.

Dari kedua merger diatas tentunya membawa angin segar bagi emiten saham Bank Jago (ARTO). Bagaimana tidak? Dalam kepemilikan struktur saham dengan kode ARTO, PT Dompet Karya Anak Bangsa mengantongi sebesar 21,40% Saham Bank Jago. Dompet Karya Anak Bangsa adalah pengembang layanan dari brand Gopay yang menjadi sebagian dari Gojek. Dari analisis berbagai sekuritas, salah satunya Muhammad Nafan Aji Gusta Utama selaku Analis Binaartha mengatakan bahwa Bank Jago akan mendapatkan apresiasi dari para investor dan juga akan memiliki basis pelanggan yang lebih luas agar dapat mengembangkan banyak produk. Nafan mengatakan bahwa potensi kenaikan harga saham ARTO ini meningkat dengan adanya merger antara Gojek dan Tokopedia. Harga saham ARTO berpotensi bergerak di kisaran harga Rp 8.800 hingga Rp 11.900. Nafan juga menambahkan bahwa meskipun proyeksi harga jangka panjangnya belum ada, tapi apresiasi dari para investor sudah pasti ada.

Menurut Analisis  Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan bahwa potensi kenaikan harga saham ARTO beragam. Menurutnya, Bank Jago juga perlu meningkatkan kinerja riil perusahaannya lagi agar para investor semakin tertarik dan menunjukkan apresiasi yang lebih kuat lagi. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, harga saham ARTO menunjukan nominal Rp 10.700. Posisi ini sudah menunjukkan bahwa saham ARTO telah mengalahkan kenaikan 77,4% dari bulan lalu.

Belum lama ini pun Morgan Stanley memprediksi bahwa saham ARTO akan menembus harga Rp 21.746 per lembar saham atau setara 38,1 kali dari nilai buku. Saat ini saham ARTO ada di kisaran Rp 9.875 sampai dengan Rp 10.750 per saham. Para investor dihimbau dapat menyiapkan amunisi dari sekarang jika ingin mengoleksi saham ARTO ini. Meskipun sudah di analisis dan dengan adanya merger antara Gojek dan Tokopedia, resiko penurunan akan tetap ada.

 

DISCLAIMER ON

 

Comments

Fatah said…
Melihat potensi GOTO yg sudah ramai dibicarakan masyarakat dan melihat segi modal perusahaan yg sangat besar sepertinya GOTO memiliki peluang yg menjanjika untuk investasi dimasa depan 😁

Popular posts from this blog

Mendeteksi Bandarmologi dengan Volume Analisis

Banyak kita jumpai atau sering kita dengar bahwa untuk mendeteksi pergerakan smart money, big fund, atau bandar kita harus menganalisis volume. Hal tersebut benar adanya, namun perlu kita ketahui bahwa selain price ( harga saham ) yang dapat dengan dimanipulasi, volume saham pun dapat di manipulasi. Jika kita hanya melihat suatu angka yang tertera pada summary/ rekap pada data transaksi, maka hal tersebut tetaplah masih dapat dikatakan analisis yang bias. Dalam buku berjudul Value in Time karya Pascall WIllain, disebutkan bahwa pergerakan bandar/ big fund/ smart money dapat terdeteksi APABILA kita dapat memisahkan volume aktif dan volume pasif. Penjelasan mengenai kedua jenis volume tersebut tidak dapat saya tulis di blog ini karena akan memakan waktu  panjang untuk pembahasannya, namun secara garis besar pemahaman tersebut adalah benar.

Booklet OTC Terbaru 2020

Download Here

Trading Limit Bukan Margin Trading

Dalam berinvestasi saham, ada istilah yang cukup terkenal yaitu Margin Trading. Secara sederhana Margin Trading dapat diartikan sebagai membeli saham dengan menggunakan dana pinjaman. Misalkan suatu perusahaan efek memberikan fasilitas Margin sebesar 100%, artinya jika nasabah memiliki dana tunai sebesar Rp200 juta, maka nasabah tersebut dapat membeli saham hingga Rp400 juta (Rp200 juta dana tunai nasabah ditambah Rp200 juta dari fasilitas Margin). Fasilitas Margin tersebut relatif populer di kalangan Investor karena dapat meningkatkan daya beli. Namun demikian, sistem Margin Trading ini memiliki resiko yang disebut Margin Call dan Forced Sell. Margin Call adalah pemberitahuan bagi nasabah bahwa terjadi penurunan harga saham sehingga nilai saham yang menjadi jaminan berkurang sementara besarnya fasilitas Margin nilainya tetap. Jika nasabah memperoleh Margin Call, maka nasabah harus menambah (Top Up) dana atau menjual