Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level tertingginya dalam empat tahun terakhir yaitu pada level 6.694,58. Padahal posisi Indonesia masih berada dalam situasi pandemi COVID-19 yang mana sektor ekonomi belum sepenuhnya pulih, namun pasar modal telah recovery dengan cepat.

Emas merupakan contoh dari komoditas yang tidak pernah sepi pembeli. Tentu saja hal tersebut dikarenakan banyaknya wanita di dunia yang mengagumi kualitas emas dan keunikannya. Kenaikan emas dapat disebabkan karena dua faktor, yaitu adanya kebijakan Tapering off dan Window dressing. Pertama, penundaan Tapering off  pada awal bulan September 2021 memang sempat menekan harga emas pada level US$ 1.721 per toz. The Fed saat itu menunda pelaksanaan kebijakan tersebut setelah melihat data lapangan kerja dan inflasi Amerika Serikat (AS). Namun menjelang FOMC Meeting pada 2-3 November, harga emas diprediksi kembali naik. Kedua, yaitu perkiraan kenaikan harga emas yang didukung dengan adanya Window dressing setiap akhir tahun bersamaan dengan membaiknya pasar keuangan. 

Kenaikan harga emas telah mulai terlihat sejak pekan kedua pada bulan Oktober tahun ini. Hal tersebut dapat dibuktikan karena harga emas meningkat dari level US$ 1.700 per toz hingga ke level US$ 1.800 per toz. Kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar dolar AS dengan sejumlah mata uang global dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan harga emas setiap tahunnya mengalami kenaikan yang dapat dibuktikan dengan grafik dibawah ini.








 

 



 Terbukti bahwa harga emas selalu mengalami kenaikan di setiap tahunnya, sehingga momentum tersebut dapat dijadikan opsi dalam membeli emiten sektor emas. Dengan melihat grafik diatas, kita bisa menghitung bahwa harga emas telah mengalami kenaikan tidak kurang dari 400% dari 275 menjadi 1428. Jika harga emas mengalami kenaikan, maka perusahaan yang memiliki portfolio emas akan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga emas tersebut. Dari sekian banyaknya emiten emas yang telah melakukan IPO (Initial Public Offering), namun menurut pendapat penulis terdapat tiga emiten pada sektor emas yang menarik untuk dianalisa, diantaranya; UNTR, MDKA, dan ANTM.

            Ketiga perusahaan tersebut memiliki kemampuan produksi yang berbeda. Berikut penjabaran dari ketiga emiten yang mempunyai tambang emas. Pertama, PT United Tractors Tbk (UNTR) merupakan perusahaan di bawah naungan Grup Astra yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari sektor konstruksi hingga pertambangan. UNTR tercatat memiliki Tambang Emas Martabe yang berada di Sumatra Utara. Sedangkan anak usaha UNTR yaitu PT Agincourt Resources telah menjadi entitas yang mengelola tambang tersebut. 

            Berdasarkan laporan keuangan UNTR pada awal bulan sampai dengan bulan Juni 2021 telah mencatat total penjualan setara emas dari Martabe mencapai 176.000 oz, atau turun 5 persen dibandingkan dengan periode yang sama yaitu pada tahun 2020 sebanyak 186.000 oz. Namun dari segi pendapatan bersih, saham dengan ticker UNTR ini masih mengalami kenaikan 7 persen dari Rp4,0 triliun menjadi sebesar Rp4,3 triliun karena meningkatnya rata-rata harga jual emas. Adapun pada penjualan pada awal bulan sampai Juli 2021 mencapai 203.800 oz, yang mana telah mencatatkan penurunan 3,69% dibandingkan dengan perolehan periode yang sama pada tahunlalu yaitu sebesar 211.600 oz. Selain itu, UNTR memiliki market cap yang besar yaitu 85,05 T (per tanggal 18 November 2021) sehingga dengan adanya Market cap yang besar tersebut menjadikan indikasi fundamental yang kokoh.

            Ditinjau dari segi analisa teknikal yang telah dilakukan oleh penulis dengan menggunakan Bollinger Bands per tanggal 15 November 2021 yaitu dengan MA 5 dan MA 15 dapat dilihat seperti grafit berikut ini.



 



 Dapat terlihat bahwa garis BB (Bollinger Band) disimbolkan dengan warna ungu, sedangkan MA 5 berwarna hitam, dan MA 15 dengan warna kuning. Potensi kenaikan masih terbuka lebar karena candle masih berada di bawah MA 5. Namun masih menyentuh MA 15 dan di atas garis BB yang artinya terdapat indikasi golden cross karena disebabkan garis BB telah mendekati garis MA 15. Posisi ini sangat tepat untuk mencicil buy emiten UNTR karena candle masih masuk ke dalam zona warna biru BB. Garis support telah berada di range harga 18.875 dan resisten di area 28.425. Timeframe yang digunakan mingguan karena persiapan terjadinya Window dressing.

Selanjutnya yaitu pembahasan emiten PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memiliki 3 tambang. Ketiga tambang tersebut adalah Tambang Emas Tujuh Bukit, Tambang Tembaga Wetar, dan Proyek Emas Pani. Area konsesi tambang emas Tujuh Bukit memiliki luas sekitar 12 ribu hektar memiliki cadangan emas bersulfidasi tinggi sebanyak 22 ton per akhir tahun 2020. Per tanggal 24 Agustus 2021, MDKA juga baru melaporkan kinerja keuangannya hingga kuartal I-2021. Perusahaan telah mencatat rugi bersih sebesar US$4,9 juta atau setara Rp71 miliar (asumsi kurs Rp14.492 per dolar Amerika Serikat) sepanjang tiga bulan pertama 2021. Catatan ini berbanding terbalik dengan kuartal I-2020 yang mencatakan laba bersih yang mana telah diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp215,9 miliar sehingga Market cap MDKA dapat diakumulasikan per tanggal 18 November yaitu sebesar 79,25 T. Pada bulan Juni 2021, perseroan berhasil melakukan kegiatan produksi tembaga sebanyak 60 hingga 70 ton per hari. Jika Perseroan secara konsisten memperoleh pencapaian tersebut, kegiatan produksi pada kuartal kedua akan jauh lebih baik dan dapat mencapai tingkat produksi yang telah ditargetkan.

Jika ditinjau dari analisa teknikal yang telah dianalisa oleh penulis per tanggal 12 November 2021 yaitu dengan menggunakan BB (Bollinger Bands), MA 5, dan MA 15 dapat dilihat pada grafik berikut.





Pergerakan dari MA 5, MA 15 dan Bollinger Bands (BB) telah mengalami uptrend. Candle sedang uji resisten untuk melewati area Bollinger bands, sehingga potensi yang sangat besar untuk terjadinya uptrend antar indikator yang telah mengalami golden cross dan juga peluang sangat kuat terjadinya uptrend.

Pembahasan berikutnya emiten berpelat merah yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang merupakan bagian dari holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertambangan Indonesia, Mining Industry Indonesia (MIND ID). Terbentuk sejak tahun 1968, Antam telah tercatat memproduksi nikel, emas, perak, bauksit, dan alumina. Untuk pertambangan emas, Antam memiliki dua tambang di Pongkor dan Cibaliung. Eksplorasi emas Antam utamanya dilaksanakan di Pongkor pada semester I-2021 di mana Antam memetakan geologi bawah permukaan, permodelan geologi, dan pengeboran. Sepanjang semester I-2021, Antam telah mencatatkan total produksi emas dari kedua tambang mereka yaitu sebesar 719 kilogram (kg). Jumlah ini turun 14,9% jika dibandingkan dengan produksi emas periode tahun lalu sebesar 845 kg. Meskipun produksi turun, penjualan emas Antam berhasil tumbuh 69% menjadi 13.341 kg sepanjang semester I-2021. Pada semester I-2020, Antam tercatat menjual emas sebesar 7.915 kg. Perolehan laba ANTM sejalan dengan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I-2021 yang telah mencapai 77,04% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (year on year/yoy).

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan ANTM naik dari Rp5,20 triliun pada kuartal I-2020 menjadi Rp9,21 triliun pada kuartal I-2021. Untuk 2021, antam berfokus dalam pengembangan basis pelanggan logam mulia di pasar dalam negeri. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi emas serta pertumbuhan permintaan emas di pasar domestik. Untuk melancarkan rencana ini, Antam juga bekerjasama dengan PT Abuki Jaya Stainless Indonesia dan PT Hartadinata Abadi Tbk yang telah meluncurkan dua produk emas yaitu Emas KITA dengan pecahan 0,1 gram dan 0,25 gram, sedangkan produk Kencana merupakan koleksi perhiasan dengan kemurnian emas 99,99 persen.

 Ditinjau dari analisa teknikal yang telah dilakukan oleh penulis per tanggal 12 November 2021 dengan menggunakan Bollinger Bands, MA 5,dan MA 15 dengan grafik seperti berikut.





Jika dilihat dari pola saat ini yaitu sedang mengalami sideways yang artinya harga saham tidak terjadi uptrend atau downtrend. Posisi ini menjadikan momentum bagi para investor untuk mempertimbangkan dalam melakukan buy emiten ANTM, karena harganya belum mengalami kenaikan yang menjadi salah satu pertimbangannya. Selain itu, candle nya masih berada di zona Bollinger Bands sehingga masih aman untuk melakukan pembelian emiten tersebut.

DISCLAIMER ON!

No comments: